image

Assalamu’alaikum
Siang tadi selepas pulang kerja BMR ketemu denga iring-iringan orang yang membawa Bade (koreksi bila salah) atau wadah tempat mengusung jenazah menuju ke pemakaman di setra (kuburan) badung, tepatnya di jalan one way imam bonjol yang menuju kearah puri Pemecutan dan pusat kota. Karna kebetulan berada di depan jd BMR bisa ambil beberapa foto dengan kamera ponsel. Jujur di Bali ini toleransinya tinggi banget lho…..bayangin aja ada upacara gini butuh penutupan jalan sesaat dan pastinya menimbulkan kemacetan tapi hal tersebut sudah biasa terjadi dan saling toleransi bahkan dalam upacara seperti ini kadang tidak ada aparat yang ikut membantu jadi semua swadaya dari pihak yang memiliki acara tersebut dan dibantu oleh satuan pengaman desa atau biasa disebut pecalang, tapi toh semua bisa sigap mengatur arus lalu lintas dan mengurai kemacetan yang terjadi sesaat. Karna dari tempat jenazah disemayamkan sampe ke pemakaman pasti riuh rame orang-orang yang ikut membantu proses tersebut. Tak ayal kalo tidak ditutup sebentar bakalan nggak nyampe tempat pemakaman dan pastinya jalanan jadi macet dan makin semrawut.

image

Oke BMR akan sedikit mengulas apa itu Ngaben berdasarkan beberapa sumber yang didapatkan dari hasil googling ke mbah google.
Ngaben merupakan salah satu dari rangkaian upacara Pitra Yadnya dan ini merupakan upacara untuk orang yang sudah meninggal. Ngaben merupakan upacara penyucian atma atau roh fase pertama, sebagai kewajiban suci umat Hindu Bali terhadap leluhurnya, dengan melakukan prosesi pembakaran jenazah. Ngaben sendiri adalah peleburan dari ajaran Agama Hindu dengan adat kebudayaan di Bali. Upacara Ngaben selalu melibatkan api, api yang digunakan ada 2, yaitu berupa api konkret atau api yang sebenarnya dan api abstrak atau api yang berasal dari Puja Mantra Pendeta yang memimpin upacara. Dalam versi lain mengatakan bahwa ngaben berasal dari kata beya yang artinya bekal, sehingga ngaben juga berarti upacara memberi bekal kepada Leluhur untuk perjalannya ke Sunia Loka. Upacara Ngaben biasanya dilakukan dengan semarak, tidak ada isak tangis, karena di Bali ada suatu keyakinan bahwa kita tidak boleh menangisi orang yang telah meninggal, karena itu dapat menghambat perjalanan sang arwah menuju tempatnya. Mereka beranggapan bahwa, memang jenasah untuk sementara waktu tidak ada, tetapi akan menjalani reinkarnasi atau menemukan tempat peristirahatan terakhir di Moksha yaitu: bebas dari roda kematian dan reinkarnasi.

image

Bentuk-bentuk upacara ngaben:
Ngaben sawa wedana
Sawa Wedana merupakan upacara ngaben dengan melibatkan jenazah yang masih utuh dalam hal ini tanpa dikubur terlebih dahulu. Biasanya upacara ini dilaksanakan dalam kurun waktu 3hari sampe 7 hari terhitung dari hari meninggalnya orang tersebut. Pengecualian biasa terjadi pada upacara dengan skala Utama, yang persiapannya bisa berlangsung. hingga sebulan. Sementara pihak keluarga mempersiapkan segala sesuatu untuk upacara maka jenazah akan diletakkan di balai adat yang ada di masing-masing rumah dengan pemberian ramuan tertentu untuk memperlambat pembusukan jenazah. Dewasa ini pemberian ramuan sering digantikan dengan penggunaan formalin. Selama jenazah masih ditaruh di balai adat, pihak keluarga masih memperlakukan jenazahnya seperti selayaknya masih hidup, seperti membawakan kopi, memberi makan disamping jenazah, membawakan handuk dan pakaian, dll sebab sebelum diadakan upacara yang disebut Papegatan maka yang bersangkutan dianggap hanya tidur dan masih berada dilingkungan keluarganya.
Ngaben Asti Wedana
Asti Wedana merupakan upacara ngaben yang melibatkan kerangka jenazah yang telah pernah dikubur. Upacara ini disertai dengan upacara ngagah, yaitu upacara menggali kembali kuburan dari orang yang bersangkutan untuk kemudian mengupacarai tulang belulang yang tersisa. Hal ini dilakukan sesuai tradisi dan aturan desa setempat, misalnya ada upacara tertentu dimana masyarakat desa tidak diperkenankan melaksanakan upacara kematian dan upacara pernikahan maka jenazah akan dikuburkan di kuburan setempat yang disebut dengan upacara Makingsan ring Pertiwi atau Menitipkan di Ibu Pertiwi.
Swasta
Swasta merupakan upacara ngaben tanpa melibatkan jenazah atau kerangka mayat, hal ini biasanya dilakukan karena adanya beberapa hal, seperti misalnya: yang meninggal berada di luar negeri atau tempat yang jauh, jenazah tak ditemukan, dan lain-lain. Pada upacara ini jenazah biasanya disimbolkan dengan kayu cendana atau pengawak yang dilukis dan diisi aksara magis sebagai badan kasar dari atma orang yang bersangkutan.

image

Dalam pelaksanaan upacara ngaben diperlukan hari baik yang biasanya melalui konsultasi dari para pendeta atau Pedanda, setelah melalui konsultasi dan berdasarkan kalender saka atau kalender bali. Persiapan biasanya diambil jauh-jauh sebelum hari baik ditetapkan. Pada saat inilah keluarga, dibantu oleh masyarakat mempersiapkan sarcophagus atau “bade dan lembu” atau Wadah yang berbentuk vihara atau padma, sebagai simbol rumah Tuhan. Bade dan Lembu yang disiapkan biasanya sangat megah, terbuat dari bahan bambu, kayu, kertas yang beraneka warna-warni sesuai dengan golongan atau kedudukan sosial ekonomi keluarga bersangkutan. “Bade dan Lembu” ini merupakan tempat mayat yang akan dilaksanakan Ngaben.
Setelah mendapatkan hari baik untuk pembakaran jenazah, pada pagi hari ketika upacara ini akan dilaksanakan, maka pihak keluarga dan sanak saudara serta masyarakat desa akan berkumpul mempersiapkan upacara ritual yang pertama: nyiramin layon yaitu memandikan jenazah. Jenazah akan dimandikan oleh kalangan brahmana sebagai kelompok yang karena status sosialnya mempunyai kewajiban untuk itu atau orang yang dianggap paling tua di dalam lingkungan masyarakat tersebut. Setelah selesai memandikan jenazah akan dikenakan pakaian adat Bali lengkap, seperti layaknya orang yang masih hidup. Prosesi selanjutnya adalah ngajum, yaitu prosesi melepaskan roh dengan membuat simbol-simbol menggunakan kain bergambar unsur-unsur penyucian roh. Setelah semuanya siap, maka jenazah akan ditempatkan di “Bade” tempat jenazah yang akan diusung ke kuburan, secara beramai-ramai ke tempat upacara Ngaben, diiringi dengan “gamelan”, “kidung suci”, dan diikuti seluruh keluarga dan masyarakat. Bentuk lembu atau vihara ini, dibawa ke tempat kremasi melalui suatu prosesi. Prosesi ini tidak berjalan pada satu jalan lurus. Hal ini dilakukan guna mengacaukan roh jahat dan menjauhkannya dari jenazah. Tepat didepan “Bade” terdapat kain putih yang panjang yang memilik makna sebagai pembuka jalan sang arwah menuju tempat asalnya. Di setiap pertigaan atau perempatan maka biasanya “Bade” akan diputar sebanyak 3 kali. sesampainya di kuburan biasanya upacara ngaben dilaksanakan dengan meletakkan mayat ke pemalungan “lembu”, yaitu tempat untuk membakar jenazah yang terbuat dari tumpukan batang pohon pisang, yang telah disiapkan, yang sebelumnya telah diawali dengan upacara-upacara lainnya dan doa mantra dari Ida Pedanda, kemudian “Lembu” dibakar sampai menjadi Abu. Abu ini kemudian dibuang ke Laut atau sungai yang dianggap suci. Disini kembali dilakukan upacara penyucian roh berupa pralina oleh pendeta atau orang yang dianggap mampu untuk itu dimana biasanya dilakukan dari kalangan brahmana. Pralina adalah pembakaran dengan api abstrak berupa mantra peleburan terhadap kekotoran atma yang melekat ditubuh. Kemudian baru dilakukan pembakaran dengan menggunakan api yang sebenarnya. Di zaman sekarang ini sudah tidak lagi menggunakan kayu bakar lagi, tapi memakai api dari kompor minyak tanah yang menggunakan angin. Umumnya proses pembakaran dari jenazah yang utuh menjadi abu memerlukan waktu kurang lebih 1 jam. Kemudian abu ini dikumpulkan dalam buah kelapa gading untuk dirangkai menjadi sekah. Sekah inilah yang nantinya dilarung ke laut, karena laut adalah simbol dari alam semesta dan sekaligus pintu menuju ke rumah Tuhan.
Setelah segala prosesi telah usai maka keluarga yang ditinggalkan dapat tenang mendoakan yang telah meninggal di pura atau tempat suci masing-masing.
Yupzzzz…….itulah kira-kira yang bisa BMR rangkum dari hasil googling bila ada kesalahan atau kekurangan mohon dikoreksi.
Wassalamu’alaikum
Sumber:
http://www.wisatabaliaga.com/blog/makna-dan-tujuan-ngaben-di-bali/

http://id.m.wikipedia.org/wiki/Ngaben

bagi sobat bikers yang pengen silaturahmi dan nambah paseduluran bisa melalui:
email: balimotorider@gmail.com
whatsapp: 081236333973
twitter: johanajah
path: johan adiwena

Iklan